Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, momentum hijrahnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah Al-Munawwarah) menjadi titik awal penanggalan hijriyah. Penetapan ini dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab RA, sebagai bentuk penghormatan terhadap peristiwa besar yang menandai lahirnya masyarakat Islam yang mandiri, berdaulat, dan berlandaskan nilai-nilai ilahiah.
Seiring berkembangnya agama Islam di tanah Jawa, para raja dan pemimpin kerajaan yang telah memeluk Islam pun mengadopsi sistem penanggalan ini. Namun, sebagaimana watak budaya Nusantara yang inklusif dan adaptif, sistem penanggalan Hijriyah itu tidak diadopsi secara mentah. Ia disandingkan, bahkan dikawinkan, dengan tradisi dan kearifan lokal yang telah lama hidup dan mengakar di bumi Jawa.
Salah satu pusat syiar Islam yang menonjol di wilayah Pasundan, khususnya di Jawa Barat, adalah Kerajaan Cirebon. Ndilalah (secara kebetulan namun penuh makna), hari jadi Kerajaan Cirebon juga ditandai bertepatan dengan momentum hijrahnya Rasulullah SAW. Ini tentu bukan kebetulan semata, melainkan penanda hadirnya kehidupan baru yang bersandar pada risalah rahmatan lil ‘alamin—yakni kehidupan yang membawa berkah dan kebaikan bagi seluruh alam.
Adalah Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi, yang memimpin Pedukuhan Caruban (cikal bakal Cirebon) dan menjadikan momen hijrah tersebut sebagai tonggak berdirinya pemerintahan Islam yang baru di tanah Parahyangan. Sebuah wilayah yang dicita-citakan menjadi "Baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur"—negeri yang baik dengan Tuhan Yang Maha Pengampun sebagai penuntunnya.
Dalam tradisi masyarakat Cirebon, setiap datangnya bulan Sura (Muharram), berbagai aktivitas budaya dan spiritual digelar. Salah satu yang paling dikenal adalah “Jamasan”, yakni pembersihan benda-benda pusaka seperti keris, tombak, trisula, dan lainnya. Bagi sebagian masyarakat, kegiatan ini kerap disalahartikan sebagai hal yang berbau mistis atau bahkan syirik. Namun dalam konteks budaya Cirebon, jamasan tak lebih dari bentuk perawatan atau "maintenance" terhadap warisan leluhur yang sarat nilai sejarah, teknologi, dan rekayasa logam (metalurgi).
Keris, tombak, dan pusaka-pusaka lainnya bukan semata benda sakral, tetapi juga simbol kejayaan teknologi leluhur Nusantara. Kemampuan mereka dalam merekayasa logam, membentuk bahan dari alam menjadi senjata dan alat kehidupan, adalah bukti unggulnya sumber daya manusia di masa lampau. Warisan tersebut hendaknya dimaknai secara positif sebagai spirit untuk terus meningkatkan kualitas diri, daya inovasi, dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tentunya dengan tetap dilandasi iman dan takwa (imtaq).
Kini, saat kita memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H, sudah sepantasnya kita tidak hanya mengenang hijrah sebagai peristiwa sejarah, melainkan menjadikannya inspirasi untuk berhijrah secara spiritual, sosial, dan intelektual menuju kehidupan yang lebih baik.
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H.
