Membedah Sindiran Tajam "Sengkuni saja tidak sejahat kamu." Kalimat Cak Nun ini memang nyelekit banget. Ia memakai tokoh wayang untuk menyindir realitas zaman sekarang. Tapi sebelum membahas sindirannya, kita perlu tahu dulu, kenapa Sengkuni bisa jadi jahat?
Udara ruang bawah tanah Hastinapura tidak lagi berbau tanah lembap, melainkan anyir keputusasaan dan kematian yang menunggu giliran. Sengkuni yang saat itu masih bernama Harya Suman bukanlah sosok licik seperti yang kelak dikenang. Ia adalah pangeran muda Gandhara, cerdas dan terdidik, dengan masa depan yang direnggut secara paksa.
Penjara itu bukan sekadar ruang kurungan, melainkan peti mati massal bagi Raja Subala dan seratus putranya. Hastinapura tidak memilih eksekusi cepat. Kematian yang instan dianggap terlalu murah. Mereka memilih cara yang lebih sunyi dan lebih kejam, memberi satu kepal nasi basi dan satu cawan air keruh setiap hari untuk dibagi kepada seratus satu orang.
Hari demi hari berlalu tanpa cahaya. Tubuh tubuh yang dulu tegap perlahan mengerut. Tulang rusuk menonjol di balik kulit pucat yang retak. Kewarasan mulai terkikis oleh perut kosong dan ketakutan yang tak terucap.
Raja Subala memahami maksud yang tersembunyi di balik kebijakan keji itu. Mereka dibiarkan menyaksikan satu sama lain mati perlahan. Bukan hanya tubuh yang hendak dihancurkan, tetapi juga martabat dan kemanusiaan.
Dari situasi tersebut, lahirlah keputusan yang lebih menyakitkan dari kematian itu sendiri. Hanya satu orang yang boleh makan. Satu orang harus hidup untuk membawa ingatan dan dendam.
Dipilihlah Sengkuni karena kecerdasannya. Sejak hari itu neraka batinnya dimulai. Setiap suapan nasi terasa seperti mengunyah sisa hidup saudara saudaranya. Ia makan di bawah tatapan mata cekung yang perlahan kehilangan cahaya. Ia hidup dengan menyaksikan keluarganya mati satu per satu. Hingga akhirnya hanya tersisa Raja Subala dan dia yang ditakdirkan untuk bertahan.
Menjelang ajal sang ayah melakukan tindakan terakhir yang sarat makna. Dengan sisa tenaga ia menghancurkan tulang kaki Sengkuni. Jeritannya memantul pada dinding batu yang dingin dan bisu.
Pincang itu bukan hukuman melainkan penanda. Setiap langkahnya kelak akan membawa rasa sakit yang mengingatkan pada lorong gelap dan tubuh tubuh yang membusuk di sekelilingnya.
Sebelum napasnya benar benar berhenti Subala menitipkan satu pesan. Tulangnya harus dijadikan dadu. Bukan sekadar alat permainan, melainkan wadah sumpah yang tak pernah selesai. Dadu itu menjadi simbol luka yang tidak pernah sembuh. Benda kecil yang kelak mengguncang istana.
Ketika pintu penjara akhirnya dibuka yang keluar bukan lagi Harya Suman. Yang melangkah pincang ke dunia adalah Sengkuni, sosok yang ditempa oleh kelaparan, rasa bersalah, dan dendam yang dipelihara dalam sunyi.
Singkat cerita, dengan senyum lembut dan tutur kata yang tenang ia masuk ke lingkaran kekuasaan Hastinapura. Ia tidak menyerang secara terbuka. Ia menanam hasut, mengatur langkah, dan menggeser bidak tanpa terlihat. Dadu tulang itu kelak bergulir di istana, menjadi pemicu retaknya persaudaraan dan meletusnya perang besar.
Kisah ini tidak membenarkan tindakannya, tetapi memberi konteks, kebengisannya berakar pada penderitaan dan kehilangan yang ekstrem.
Di sinilah sindiran Cak Nun menjadi relevan. Jika Sengkuni berubah karena keluarganya dimusnahkan dan hidupnya dihancurkan, bagaimana dengan mereka yang tumbuh dalam keadaan aman, diberi kepercayaan, jabatan, dan kuasa?
Mereka tidak dibentuk oleh tragedi, namun tetap memilih jalan gelap. Perbedaannya jelas,
Sengkuni digerakkan oleh luka masa lalu, sedangkan sebagian manusia digerakkan oleh ambisi dan hasrat kuasa.
Di titik inilah kalimat "Sengkuni saja tidak sejahat kamu" menjadi sindiran yang halus namun menggigit. Ia tidak menyebut nama siapa pun. Ia hanya mengajak kita bercermin.
#guru #guruindonesia #caknun #sengkuni
