Iklan

Memuat pesan hari ini...

Ad code

Garis yang Sengaja Diputus

 


EPISODE 1: RUANG HAMPA DI AMBANG PINTU

Bunyi notifikasi WhatsApp itu menjadi lonceng kematian bagi harapan Khanza.

"Kita fokus masing-masing dulu ya, Za. Aku ingin memperbaiki diri dan fokus karier di kampus baru. Kalau jodoh, kita pasti ketemu lagi." 

Kalimat Deva terasa seperti belati tumpul yang dipaksa masuk ke dada Khanza. Di layar laptopnya, pengumuman SNBT berwarna merah menyala: ANDA DINYATAKAN TIDAK LULUS.

Khanza merasa dunianya runtuh dua kali lipat. Di saat ia butuh pundak untuk menangis karena kegagalannya, Deva satu-satunya orang yang ia percayai justru memilih pergi. Alasan Deva sangat logis, terlalu logis hingga terasa palsu. Tidak ada pertengkaran, tidak ada orang ketiga yang terlihat, hanya sebuah pemutusan sepihak yang dibungkus kata-kata bijak tentang "masa depan".

Khanza mencoba menghubungi Deva, namun nomornya mati. Media sosialnya pun lenyap. Satu hal yang mengganjal: Deva diterima di PTN ternama di luar kota, namun ia tidak pernah memberi tahu Khanza jurusan apa atau di mana tepatnya ia akan tinggal. Seminggu setelah putus, Khanza nekat mendatangi rumah Deva.

Sesampainya di sana, rumah itu kosong. Hanya ada papan bertuliskan "DISEWAKAN". Seorang tetangga keluar dan menatap Khanza dengan iba, "Lho, Neng Khanza? Keluarga Deva kan sudah pindah sejak dua hari lalu... katanya mereka tidak akan kembali lagi ke kota ini."