Iklan

📰 Selamat datang di beriTAHU — Tempatnya berita unik, cerita pendek inspiratif, dan fakta mengejutkan yang bikin kamu bilang “Oh, baru TAHU!” 💡

Ad code

PERINGATAN HARI JAKARTA: MENGINGAT PERAN PANGLIMA ARMADA LAUT CARUBAN NAGARI DI PALAGAN JAYAKARTA 1527

 


Setiap kali tanggal 22 Juni tiba, warga ibu kota merayakan Hari Ulang Tahun Jakarta. Namun, di balik gegap gempita perayaan modern, sejarah menyimpan kisah heroik tentang tokoh penting yang menjadi kunci lahirnya kota ini: Fatahillah, sang Panglima Armada Laut Caruban Nagari.

Nama Fatahillah atau Falatehan tercatat dalam sejarah sebagai menantu dari Sunan Gunung Jati, Raja Cirebon sekaligus anggota Dewan Wali Sanga. Ia ditunjuk oleh Kesultanan Cirebon dan Demak sebagai panglima armada gabungan untuk menjalankan misi besar: mengusir Portugis dari wilayah Sunda Kelapa, pelabuhan penting di pesisir utara Jawa.

Menariknya, Fatahillah bukan asli Cirebon maupun Demak. Ia adalah putra dari Samudera Pasai, sebuah kerajaan Islam di utara Sumatra yang jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Dalam pelariannya dari invasi Portugis, Fatahillah mengabdi di Kesultanan Demak, hingga akhirnya dipersunting menjadi menantu Sunan Gunung Jati.

Penunjukan Fatahillah sebagai panglima bukan tanpa alasan. Selain keberanian dan kecakapannya dalam strategi perang, ia juga dianggap mewakili semangat jihad melawan penjajahan asing. Misi militer ini diperkuat oleh jaringan intelijen yang dipimpin oleh salah satu putra Sunan Gunung Jati yang aktif di wilayah Banten.

Dengan persiapan matang dan dukungan penuh dari dua kesultanan besar, pada tanggal 22 Juni 1527, pasukan gabungan berhasil merebut Sunda Kelapa dari tangan Portugis. Kemenangan ini kemudian diabadikan dengan nama "Jaya Karta", yang berarti "kemenangan yang sempurna", cikal bakal dari nama Jakarta saat ini.

Namun, di tengah semarak perayaan Hari Jakarta, muncul pertanyaan reflektif: apakah para pemimpin dan warga Jakarta juga mengenang jasa Fatahillah melalui ziarah atau penghormatan khusus? Sosok yang meletakkan dasar lahirnya Jakarta kini beristirahat damai di kompleks makam Sunan Gunung Jati, Cirebon.

Apakah kita masih mengingat siapa yang pertama kali membidani lahirnya kota ini? Ataukah ingatan itu hanya tersisa dalam buku sejarah?

Dirgahayu Kota Jakarta. Semoga semangat Jaya Karta tetap menyala di hati setiap warganya.

Comments