Koperasi sudah lama menjadi bagian penting dari sistem ekonomi Indonesia. Tapi tahukah kamu, bahwa tugu yang menjadi simbol kebanggaan koperasi Indonesia ternyata berada di Tasikmalaya, Jawa Barat? Di balik kesan kotanya yang tenang dan religius, Tasikmalaya menyimpan sejarah besar tentang lahirnya semangat ekonomi kerakyatan di tanah air.
Tugu Koperasi Indonesia berdiri kokoh di sebuah kawasan yang dulunya menjadi tempat penting dalam pergerakan koperasi awal di Indonesia. Tugu ini dibangun sebagai penghormatan atas perjalanan panjang gerakan koperasi, mulai dari masa penjajahan hingga menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi nasional. Tugu tersebut memiliki bentuk khas: sebuah tugu utama berwarna gelap dengan logo koperasi berwarna emas di bagian atas, dikelilingi pilar-pilar putih yang berdiri miring. Bentuknya tidak hanya unik, tapi juga penuh simbol—melambangkan gotong royong, kekuatan bersama, dan pijakan ekonomi rakyat yang kokoh.
Gerakan koperasi di Indonesia sendiri sudah dimulai sejak tahun 1896 oleh Raden Aria Wiraatmaja di Purwokerto. Beliau memprakarsai sebuah lembaga simpan pinjam untuk membantu para pegawai negeri yang terjerat lintah darat. Meski belum disebut koperasi secara formal, inilah cikal bakal gerakan ekonomi berbasis kebersamaan yang kelak menjadi dasar koperasi Indonesia. Seiring waktu, gagasan ini menyebar dan berkembang, hingga mencapai puncaknya setelah kemerdekaan.
Perjuangan koperasi tidak bisa dilepaskan dari sosok Mohammad Hatta, proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama Indonesia. Bung Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Beliau memperjuangkan koperasi bukan hanya sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga sebagai gerakan moral, sosial, dan budaya. Dalam pandangan Hatta, koperasi adalah sistem ekonomi yang paling cocok dengan jiwa bangsa Indonesia—yang terbiasa hidup dalam semangat kebersamaan dan tolong-menolong. Salah satu pernyataannya yang paling terkenal adalah bahwa koperasi merupakan alat perjuangan ekonomi rakyat yang paling adil dan manusiawi.
Pada 12 Juli 1947, Kongres Koperasi pertama digelar di Tasikmalaya, memperkuat posisi kota ini sebagai salah satu titik penting dalam sejarah koperasi Indonesia. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Nasional. Maka tak heran jika kota ini kemudian menjadi tempat berdirinya Tugu Koperasi Indonesia, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah tersebut.
Meski begitu, tidak banyak orang tahu tentang keberadaan tugu ini. Bahkan masyarakat Tasikmalaya sendiri banyak yang belum mengetahui nilai historis di balik monumen tersebut. Tugu ini seolah tertutup oleh waktu dan kurang dikenal oleh generasi muda. Padahal, selain sebagai simbol sejarah, tugu ini bisa menjadi tempat edukasi yang sangat berharga.
Kini, melalui berbagai inisiatif dari komunitas, dinas koperasi, dan pegiat sejarah lokal, keberadaan Tugu Koperasi Indonesia mulai diperkenalkan kembali. Dokumentasi digital, twibbon, konten edukatif, hingga kegiatan kunjungan lapangan menjadi cara untuk menghidupkan kembali semangat koperasi. Generasi muda diajak untuk tidak hanya mengenang sejarah, tapi juga mengambil inspirasi dari nilai-nilai koperasi: keadilan, kebersamaan, dan kemandirian.
Tugu Koperasi Indonesia bukan hanya sekadar bangunan, tapi simbol harapan dan semangat perjuangan ekonomi rakyat. Terletak di jantung kota Tasikmalaya, tugu ini mengingatkan kita semua bahwa kekuatan ekonomi bangsa tidak hanya datang dari modal besar, tetapi juga dari rasa saling percaya dan kerja sama yang tulus. Jadi, jika suatu saat kamu berkunjung ke Tasikmalaya, jangan lupa mampir ke tugu ini—karena di sanalah semangat koperasi Indonesia terus berdiri tegak.