Iklan

Memuat pesan hari ini...

Ad code

Garis Yang Sengaja Diputus Eps. 2

 


EPISODE 2: JEJAK YANG TERHAPUS

"Pindah? Ke mana?" suara Khanza bergetar.

Tetangga itu hanya mengedikkan bahu, memberikan sebuah amplop cokelat kecil yang tertinggal di kotak surat.
"Ini ada surat, tidak ada alamat pengirimnya, tapi tertulis nama kamu di depannya."

Khanza membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya bukan surat cinta, melainkan sebuah tiket kereta api satu kali jalan menuju kota Malang. Tanggal keberangkatannya adalah besok pagi. Tidak ada pesan tambahan. Khanza bingung; apakah ini dari Deva? Atau seseorang yang ingin menjebaknya?

Sambil meratapi kegagalan PTN-nya, Khanza merasa hidupnya kini tidak memiliki arah. Ia memutuskan untuk mengikuti instingnya. Ia pergi ke Malang. Di kereta, ia mencoba memutar kembali memori terakhirnya bersama Deva. Ia teringat Deva sering menerima telepon rahasia dan selalu tampak cemas setiap kali Khanza membahas tentang rencana kuliah bersama.

Saat kereta mulai melaju, Khanza membuka tasnya untuk mengambil air minum. Di dalam tasnya yang seharusnya hanya berisi pakaian, ia menemukan sebuah ponsel asing yang terus bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal: 

"Jangan turun di stasiun tujuan. Mereka mengawasimu."

Jantung Khanza berdegup kencang. Ia menoleh ke sekeliling gerbong, mencari sosok yang mencurigakan. Siapa "mereka"? Dan kenapa Deva meninggalkannya dengan cara serumit ini jika alasannya hanya "fokus karier"?

Khanza memilih turun satu stasiun sebelum tujuan akhir. Ia bersembunyi di sebuah kafe kecil dekat stasiun. Ia memberanikan diri mengangkat telepon yang terus berdering di ponsel misterius itu. Suara di seberang sana bukan suara Deva, melainkan suara perempuan paruh baya yang terengah-engah.

"Khanza? Dengar, Deva melakukan ini untuk melindungimu. Dia tidak pernah benar-benar kuliah. Dia dipaksa membayar utang ayahnya kepada orang-orang berbahaya. Alasan dia memutus hubunganmu adalah agar kamu tidak ikut terseret."

Khanza tertegun. Jadi, kegagalannya di PTN dan kepergian Deva adalah bagian dari skenario yang lebih gelap? Khanza mulai melacak lokasi terakhir ponsel tersebut menggunakan aplikasi pelacak yang terpasang di dalamnya. Titik koordinat itu membawanya ke sebuah gudang tua di pinggiran kota. Di sana, ia melihat mobil yang sangat ia kenali: mobil ayah Deva. Namun, di kaca belakang mobil itu, terdapat bekas lubang peluru yang ditutupi lakban hitam.