Latihan dan Detak yang Sama
Matahari sore mulai condong ke barat, mengintip dari sela-sela pepohonan di pinggir lapangan upacara. Suara teriakan senior membelah udara, menandakan sesi latihan sudah dimulai.
Rere berdiri tegap di barisan tengah. Ia memegang catatan yang berisi urutan formasi dan yel-yel untuk demo esok hari. Semua senior kelas 11 bergerak kompak, mengikuti komando yang keluar dari bibirnya.
Tiba-tiba, dari pinggir lapangan, terdengar suara yang sudah tak asing lagi.
“Kamu jangan lupa tarik napas dalam sebelum mulai yel, ya, junior spesial Akang!”
Rere menoleh cepat. Di sana berdiri Kang Danu, dengan jaket hitam dan senyum penuh semangat. Sontak anggota lain tertawa dan menyemangati Rere.
“Ah, Akang! Jangan ganggu konsentrasi dong,” Rere membalas sambil tersipu.
Danu melangkah mendekat, memperhatikan gerakan barisan dengan mata tajam. “Bagus, tapi ingat, yel-yel itu bukan cuma suara. Harus ada jiwa dan semangat yang keluar dari hati.”
Rere mengangguk serius. “Iya, Akang. Aku akan coba lebih maksimal.”
Latihan berlanjut dengan intens. Akang Danu kadang ikut memberikan arahan, mengoreksi langkah atau memberi tips supaya barisan lebih kompak dan gerakan lebih presisi.
Saat jeda, Danu duduk di bangku pinggir lapangan, sementara Rere mendekat, napasnya masih terengah.
“Akang, kenapa Akang masih sering datang ke sini? Kan udah jadi mahasiswa,” tanya Rere penasaran.
Danu tersenyum, menatap langit sore. “Karena aku masih merasa punya tanggung jawab sama kalian. Plus, ada yang buat aku betah di sini.”
Rere menatap tajam, penuh harap.
“Aku nggak mau melewatkan momen ini... kamu,” kata Danu pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Rere terpaku. Jantungnya berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena latihan.
Mereka berdua diam, menikmati momen itu, di tengah deru angin dan suara latihan yang menggema di lapangan.
