Langit siang itu sedikit berawan ketika Danu melangkah masuk ke halaman sekolah lamanya. Suasana ramai — siswa lalu-lalang menyiapkan acara tahunan yang paling dinanti: Demo Ekstrakurikuler. Spanduk-spanduk tergantung di gerbang, poster-poster penuh warna menempel di dinding, dan suara peluit terdengar samar dari arah lapangan.
Di bawah pohon besar dekat koridor utama, beberapa siswa kelas 11 berkumpul melingkar. Seragam mereka rapi, jaket Paskibra disampirkan di bahu, dan wajah mereka serius membahas alur penampilan ekstrakurikuler di hari H.
“Rapat serius banget, kayak mau sidang negara,” ucap suara familiar dari belakang mereka.
Semua menoleh. Beberapa langsung berdiri.
“Kang Danu?!”
Senyum lebar mengembang di wajah anak-anak itu. Danu, alumni yang baru lulus tahun lalu dan mantan komandan Paskibra sekolah, kini sudah menyandang status mahasiswa. Tapi tetap saja, kehadirannya selalu membawa semangat berbeda bagi para anggota.
“Wah, Kang! Udah lama nggak mampir!” seru Rangga, ketua angkatan saat ini.
“Makanya, kangen kalian nih. Dengar-dengar, pasukan sekarang mau tampil ya?” Danu duduk santai di pagar semen, menatap berkas-berkas yang sedang dibolak-balik.
“Iya, Kang. Demo ekstrakurikuler besok. Kita rencana baris formasi dan yel-yel angkatan,” jawab Tika.
Danu mengangguk. “Keren. Kalian siapin apa aja?”
Saat semua sibuk menjelaskan, mata Danu sempat menangkap sosok yang berdiri agak di belakang — Rere, siswi kelas 11, membawa buku catatan dibalut sampul warna merah putih khas anak paskibra. Ia tampak sedikit gugup saat sadar Danu melihatnya.
Danu tersenyum kecil. “Rere, kamu bagian apa?”
Rere kaget. “Eh? Aku... jadi danton dan pemimpin yel, Kang.”
“Wah, tanggung jawab besar ya,” kata Danu sambil menatap lurus. “Tapi cocok. Kamu tipe suaranya bagus dan lantang.”
Rere tak berani menatap lama-lama. Tapi senyum tipis muncul di wajahnya. “Itu juga karena Akang dulu yang ngajarin dasar-dasarnya.”
Seketika suasana jadi hangat. Anak-anak lain mulai melanjutkan diskusi, tapi dalam kepala Rere, suara mereka terdengar jauh. Yang ia rasakan hanya detak jantung yang sedikit tidak biasa... dan tatapan Danu yang masih tersisa beberapa detik lebih lama dari semestinya.
Danu berdiri. “Nanti pas tampil, Akang mau lihat ya. Mau nostalgia sekalian.”
Rere mengangguk. “Boleh, Kang...”
Danu berjalan pelan, tapi sebelum benar-benar pergi, ia sempat menoleh dan berkata pelan, hanya untuk Rere, “Jangan grogi. Junior spesial Akang nggak boleh salah langkah.”
Rere terpaku. Pipinya menghangat. Ia menunduk, pura-pura fokus pada catatan, padahal satu kalimat itu terus berulang di kepalanya.
