Presiden Korea Selatan saat itu, Kim Dae-jung, melakukan perjalanan ke Pyongyang untuk bertemu langsung dengan Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-il. Ini adalah kali pertama dalam sejarah kedua pemimpin Korea bertatap muka sejak Perang Korea berakhir pada 1953 tanpa perjanjian damai.
Pertemuan ini tidak hanya simbolis. Selama tiga hari, kedua pihak duduk bersama, membahas masa lalu yang pahit dan masa depan yang mungkin lebih damai. Mereka menghasilkan sebuah deklarasi bersama yang memuat komitmen untuk mengakhiri permusuhan, mempertemukan kembali keluarga-keluarga yang telah lama terpisah oleh perang, serta membuka peluang kerja sama ekonomi dan budaya.
Yang paling penting, pertemuan ini mencerminkan upaya serius dari kedua Korea untuk saling menghormati kedaulatan masing-masing dan mencari jalan damai tanpa kekerasan.
Atas inisiatif ini, Kim Dae-jung dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun yang sama. Dunia menyambut optimisme itu, meskipun realitas politik tetap kompleks.
Namun, sejak saat itu, tanggal 13 Juni 2000 dikenang sebagai momen langka ketika dua bangsa yang dulu bersaudara, yang kini hidup dalam sistem dan ideologi yang sangat berbeda, memilih untuk duduk berdampingan dan berbicara tentang perdamaian.
Sebuah peristiwa yang membuktikan bahwa bahkan di tengah ketegangan, dialog selalu mungkin terjadi.