Ternyata Jadi KM Seru Juga!
Setelah sukses memimpin kelas dalam pementasan Gelar Karya dan membawa pulang piala juara satu, nama Bima makin mencuat. Banyak guru yang mulai memperhatikannya, bahkan teman-teman dari kelas lain pun mulai mengenalnya. Tapi dari semua perhatian itu, ada satu yang cukup mencolok dan tak disangka-sangka datang dari Imas—siswi kelas 11 IPS 1 yang terkenal bukan hanya karena wajahnya yang cantik, tapi juga karena status keluarganya yang kaya raya. Ayahnya adalah salah satu donatur besar sekolah, dan Imas nyaris tak pernah terlihat kesusahan dalam hal apapun.
Bima awalnya tidak terlalu memperhatikan Imas. Bukan karena tidak tertarik, tapi karena baginya, cewek seperti Imas terasa seperti dunia lain. Terlalu jauh. Terlalu tinggi. Tapi segalanya berubah sejak suatu pagi, saat Bima sedang merapikan jadwal piket kelas di papan tulis, tiba-tiba terdengar suara lembut di belakangnya.
“Hai, kamu Bima, kan?”
Bima menoleh. “Eh, iya. Kamu...?”
“Imas,” jawab gadis itu sambil tersenyum. “Aku lihat kamu waktu Gelar Karya kemarin. Keren banget jadi ketua tim drama. Kamu juga yang nyatuin teman-temanmu waktu pada ribut, kan?”
Bima hanya menggaruk belakang kepala, sedikit gugup. “Eh, iya sih... tapi itu juga karena semua akhirnya mau kerja sama.”
“Aku suka cara kamu ngomong. Tegas, tapi tenang,” ucap Imas sambil menatap mata Bima cukup lama.
Bima langsung salah tingkah. “Eh... makasih ya.”
Sejak hari itu, Imas beberapa kali sengaja mampir ke kelas Bima, pura-pura menanyakan tugas lintas jurusan, atau sekadar lewat dan menyapa. Teman-teman Bima mulai memperhatikan kedekatan itu. Bahkan Risa, yang selama ini selalu ada di sisi Bima, mulai tampak agak berbeda.
“Mas, tadi Bima udah ke ruang guru. Tugasnya udah dikumpulin,” ujar Risa suatu siang saat Imas datang ke kelas mereka.
“Oh, ya? Hehe, aku kira dia masih di sini,” kata Imas sambil tersenyum lalu berlalu, tapi tidak sebelum sempat menatap Risa dengan tatapan tak suka yang tersirat.
Bima, yang belakangan menyadari dinamika aneh ini, merasa bingung. Ia memang tidak menolak kedekatan dengan Imas, tapi juga tidak ingin menjauh dari Risa, orang yang dari awal selalu mendukungnya saat semua orang meragukan.
Masalahnya makin rumit saat Imas mengirim pesan melalui DM Instagram Bima malam itu:
“Bim, kamu sibuk nggak akhir pekan ini? Aku pengin ngajak ngobrol soal proyek kelas IPS. Tapi penginnya ngobrol di tempat yang agak santai. Kamu bisa?”
Bima menatap layar ponselnya lama. Ia tidak langsung membalas. Dalam hati, ia bertanya-tanya: apakah ini benar-benar soal proyek... atau sesuatu yang lain?
Keesokan harinya, saat jam istirahat, Risa duduk di samping Bima di bangku kantin, membawa dua kotak bekal. Seperti biasa, satu untuk dirinya, satu untuk Bima.
“Masih suka telat sarapan, kan?” ujar Risa datar.
“Hehe, makasih, Ris. Emang ngerti aja kamu,” balas Bima sambil tersenyum kecil.
Risa hanya menatap kotaknya sebentar. Lalu, tanpa menoleh, ia berkata pelan, “Lo lagi deket sama Imas, ya?”
Bima terdiam. “Dia yang nyamperin gue duluan... gue juga bingung, Ris.”
“Lo suka sama dia?”
Pertanyaan itu membuat suasana seketika jadi canggung. Bima tidak langsung menjawab.
“Aku nggak tahu. Aku cuma... lagi bingung. Tapi satu hal yang pasti, aku nggak pengin kehilangan orang yang selalu dukung aku dari awal,” ucap Bima akhirnya, pelan tapi jelas.
Risa tersenyum tipis, tapi tak menjawab. Hanya menunduk dan melanjutkan makan.
Di saat yang sama, dari kejauhan, Imas melihat mereka berdua dari jendela lantai dua gedung IPS. Tatapannya tajam. Ia tidak suka jika ada yang menghalangi keinginannya.
Dan sejak hari itu, cerita Bima sebagai ketua kelas tidak lagi hanya tentang jadwal piket dan menyatukan teman-teman... tapi juga tentang hati yang mulai diperebutkan.
