Langkah Tak Terduga Bima
"LAHH kenapa aku jadi KM? Gamau ahh, gabisa!!!" sanggah Bima.
Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas di SMAN 1 Nusa Bangsa. Setelah perdebatan panjang, akhirnya Bima terpilih sebagai ketua kelas (KM) yang baru. Bima adalah siswa yang cukup terkenal di kalangan teman-teman seangkatan—bisa dibilang, dia adalah anak “famous” yang multitalenta.
Namun, menjadi ketua kelas bukanlah hal yang direncanakan Bima. Baginya, jabatan itu berarti terikat pada aturan, dan itu membuatnya merasa tidak bebas. Sebut saja hari ini sebagai hari sialnya, karena hal yang paling tidak ia inginkan justru menjadi kenyataan.
"Udah, Bim. Lo pasti bisa kok. Gue yakin," ujar Risa, mencoba mendukung.
"Ngomong sih gampang ahh," jawab Bima setengah kesal.
Setelah percakapan singkat itu, Bima memutuskan untuk pergi. Kaki panjangnya membawanya ke perpustakaan sekolah. Untungnya, saat membuka pintu, tak ada penjaga perpustakaan di sana, sehingga Bima bisa leluasa. Kebetulan, setelah istirahat kedua tidak ada guru yang masuk karena akan diadakan rapat untuk persiapan kegiatan rutin SMAN 1 Nusa Bangsa, yaitu Gelar Karya.
Akhirnya, Bima merebahkan tubuhnya di bangku yang tersedia. Mungkin tidur sejenak bisa membuat suasana hatinya lebih baik, pikir Bima.
Bel sekolah berbunyi, menandakan waktu istirahat telah usai. Seperti dugaannya, tidur sebentar cukup untuk memperbaiki suasana hatinya. Bima pun memutuskan kembali ke kelas. Namun, di depan ruang guru, ia bertemu Pak Hari, wali kelasnya.
"Bima, Bapak ucapkan selamat ya sudah terpilih jadi KM. Bapak yakin kamu pasti bisa jadi ketua yang baik," ujar Pak Hari sambil menjabat tangan Bima.
"Haha, iya Pak. Saya juga nggak nyangka bisa terpilih jadi KM. Tapi saya akan berusaha sebaik mungkin. Mohon bantuannya ya, Pak," jawab Bima.
Dalam hati, Bima menggerutu. Apa yang dikatakannya tidak sepenuhnya bohong, namun kenyataannya ia masih dalam proses menerima peran barunya sebagai KM dadakan. Itulah sebabnya ia masih cukup sensitif saat membicarakan hal ini.
Tak terasa, hampir satu bulan Bima menjabat sebagai ketua kelas. Lama-kelamaan, Bima mulai merasa bahwa menjadi KM tidak seburuk yang ia bayangkan.
Akhirnya, acara Gelar Karya yang ditunggu-tunggu tinggal menghitung hari. Sebagai ketua kelas, Bima ikut stres memikirkan persiapan pementasan drama yang akan ditampilkan kelasnya. Tidak hanya itu, konflik mulai muncul di antara teman-teman sekelasnya.
"Halah, nggak usah sok ngatur deh, Yo. Kerjaan lo aja belum tentu bagus," ujar Reva pada Aryo, yang tak terima saat diberi saran oleh Aryo.
"Heh, Rev! Aku juga cuma nyaranin, ya. Biasa aja dong, jangan ngegas gitu. Kalau kamu capek, kamu pikir aku nggak capek juga? Jangan kayak anak kecil, lah," balas Aryo dengan emosi.
Perdebatan sengit itu menarik perhatian Bima yang baru saja tiba di kelas.
"Loh, kenapa lagi ini? Jangan saling nyalahin gitu, dong. Kita semua harus bisa saling bantu. Kalau kalian cuma terus-terusan ngerasa paling capek, nggak bakal selesai. Kita ini tim! Kalian sadar kan, waktu pentas tinggal beberapa hari lagi? Harusnya kita saling bantu, bukan malah debat kayak gini. Rev, Yo... Aku tahu kalian capek. Kita semua capek. Tapi udah ya, jangan kayak gini. Baikan ya?" ujar Bima menengahi.
Setelah mendengar nasihat panjang dari Bima, Aryo akhirnya mengalah.
"Emm... Rev, maaf ya. Tadi aku malah kepancing emosi. Aku sadar kita semua capek, kamu juga. Tapi kalau kita kerjain bareng-bareng, pasti nggak akan seberat itu," ucap Aryo.
"Hhh... iya deh, aku maafin. Aku juga minta maaf. Guys, aku minta maaf ya kalau aku sama Aryo malah debat di saat kayak gini, padahal aku tahu kita semua capek," sesal Reva.
"Iya, nggak apa-apa. Tuh kan, enak kalau kelas kita akur," ujar Bima dengan lega.
Akhirnya, pementasan drama dalam acara Gelar Karya yang ditunggu-tunggu pun bisa diselesaikan dengan sukses. Kelas Bima bahkan berhasil membawa pulang piala juara satu.