Tasikmalaya & Rakhine
Dua lokasi yang terpaut ribuan kilometer, dua masa yang berbeda. Namun keduanya menyimpan jejak luka yang sama: kamp konsentrasi yang dibangun di bawah bayang-bayang militer, meninggalkan trauma, penindasan, dan pelanggaran berat hak asasi manusia (HAM).
📍 Ciranca, Indonesia: Kamp Tersembunyi di Bukit Perbatasan
Pada akhir 1950-an, saat negara Indonesia tengah berupaya menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), militer mendirikan kamp konsentrasi di Kampung Ciranca, Desa Tawang, wilayah perbukitan yang terletak di antara Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat.
Kamp ini dibangun di atas lahan seluas 3.000 meter persegi di atas bukit, dikelilingi oleh pagar bambu runcing setinggi 2 meter dan kawat berduri. Enam pintu keluar kamp dijaga ketat oleh setidaknya tiga tentara bersenjata pada masing-masing pos.
Penghuninya bukan hanya anggota DI/TII, tapi juga warga sipil yang diduga memiliki hubungan keluarga atau simpati terhadap gerakan tersebut — termasuk perempuan dan anak-anak. Mereka hanya diperbolehkan keluar untuk berkebun atau bertani di siang hari, dengan pengawasan ketat dan pemeriksaan saat masuk kembali ke kamp.
Menurut berbagai kesaksian dan laporan, banyak dari tahanan mengalami penyiksaan, intimidasi, bahkan eksekusi tanpa pengadilan. Semua ini mencerminkan bentuk pelanggaran HAM yang serius oleh aparat negara terhadap warga negaranya sendiri.
Kamp ini akhirnya dibubarkan setelah pemimpin DI/TII, S.M. Kartosoewirjo, ditangkap pada Juni 1962.
🌍 Rohingya, Myanmar: Hidup dalam Penjara Terbuka
Di Myanmar, sejak konflik berdarah tahun 2012, puluhan ribu etnis Rohingya dikurung di kamp-kamp pengungsian tertutup. Kamp-kamp ini tidak hanya memisahkan mereka secara fisik, tapi juga secara sistematis mencabut hak-hak dasar: mulai dari kewarganegaraan, kebebasan bergerak, pendidikan, hingga akses layanan kesehatan.
Pasca operasi militer besar-besaran pada 2017 yang menyebabkan lebih dari 700.000 orang mengungsi ke Bangladesh, dunia internasional mengecam Myanmar atas dugaan genosida dan pelanggaran HAM berat. Namun hingga kini, ribuan Rohingya masih hidup dalam pengasingan internal — di kamp yang tidak berbeda dari penjara terbuka.
🛑 Kekuasaan Militer dan Hilangnya Kemanusiaan
Dua kasus ini menunjukkan pola yang mencolok: ketika militer memegang kuasa tanpa pengawasan, maka perlindungan terhadap warga sipil rentan hilang. Atas nama keamanan negara, kamp-kamp konsentrasi dibangun, dan pelanggaran HAM dilakukan — bukan oleh musuh asing, melainkan oleh aparatur negara sendiri.
Di Rohingya maupun Ciranca, warga sipil menjadi korban dari keputusan militer yang represif dan tidak akuntabel. Efeknya tidak hanya merusak kehidupan individu, tapi juga menghancurkan kepercayaan publik terhadap institusi negara.
✊ Luka yang Belum Sembuh
Meski waktu terus berlalu, luka yang ditinggalkan kamp-kamp ini belum benar-benar sembuh. Di Myanmar, Rohingya masih bertahan dalam keterasingan. Di Indonesia, Kamp Ciranca mungkin hanya tersisa dalam ingatan para penyintas — tapi kisahnya tetap relevan sebagai pengingat bahwa kekuasaan militer tanpa batas adalah ancaman nyata bagi kemanusiaan.
Sudah saatnya sejarah ini dibuka kembali — bukan untuk menyalahkan, tapi untuk belajar. Agar pelanggaran HAM tidak terus berulang dengan wajah baru di masa depan.