KERTAHARJA – Musyawarah Dusun Cilemor digelar pada malam Senin, 4 Januari 2026, menjadi ajang pembuktian kritis bagi warga dalam mengawal transisi kepemimpinan di tingkat kewilayahan. Pertemuan yang berlangsung khidmat di Posyandu Kenanga 1 RW 12 Dusun Cilemor ini bukan sekadar ajang perkenalan Dimas Firman—calon Kepala Dusun (Kadus) terpilih hasil seleksi—melainkan momentum bagi masyarakat untuk menegaskan standar tinggi bagi siapa pun yang ingin melayani mereka.
Aspirasi dari Akar Rumput
Acara dibuka oleh RW 12, Apip, yang kemudian dilanjutkan dengan penyampaian dari Plt. Kepala Dusun Cilemor sekaligus Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Kasi Ekbang) Desa Kertaharja, Lukman. Kehadiran Lukman memberikan gambaran mengenai tata kelola pemerintahan desa yang kini semakin menuntut profesionalisme.
Ojo, anggota BPD keterwakilan Dusun Cilemor, menegaskan bahwa kehadiran masyarakat—mulai dari sesepuh, RT, RW, hingga tokoh pemuda—adalah bentuk pengawasan langsung terhadap sistem seleksi perangkat desa yang kini berlaku. Ia meminta Dimas Firman memaparkan visi di hadapan warga meskipun proses pelantikan belum dilaksanakan.
Ujian Komitmen bagi Pemimpin Baru
Dalam pemaparannya, Dimas Firman mengakui bahwa posisinya sebagai perangkat desa kewilayahan saat ini bukan lahir dari proses pilihan langsung masyarakat, melainkan melalui jalur seleksi pemerintah. Oleh karena itu, ia menyatakan akan patuh pada regulasi pemerintah sembari membuka ruang seluas-luasnya bagi aspirasi warga.
Namun, pengakuan tersebut langsung disambut dengan deretan tuntutan konkret dari warga yang selama ini dikenal memiliki kesadaran kolektif yang tinggi:
Menjaga Prestasi PBB: RT di wilayah Cilemor memberikan peringatan keras agar prestasi Dusun Cilemor sebagai peringkat pertama dalam realisasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Desa Kertaharja tidak merosot di bawah kepemimpinan baru.
Kehadiran dan Empati: Masyarakat menuntut kehadiran fisik Kadus dalam setiap dinamika warga, baik dalam momen kebahagiaan maupun kedukaan, sebagai bentuk pengabdian nyata.
Transparansi Digital: Tokoh pemuda mendesak dibentuknya kanal informasi digital seperti grup WhatsApp terintegrasi agar program pemerintah tidak lagi menjadi informasi yang bersifat "setengah-setengah" atau simpang siur.
Wejangan dan Pengingat Akhirat
Puncak dari musyawarah ini adalah penyampaian pesan dari sesepuh Dusun Cilemor yang memberikan peringatan spiritual dan moral. Masyarakat Cilemor menginginkan pelayan yang tidak hanya bekerja secara administratif, tetapi juga memiliki integritas nurani.
"Niatkan ibadah, harus bisa mengayomi masyarakat. Ingatlah bahwa kepemimpinan ini akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat," tegas salah satu sesepuh. Beliau juga meminta agar setiap keinginan masyarakat dicatat dengan saksama. Jika ada usulan pembangunan yang belum bisa terealisasi, pemimpin harus memiliki keberanian untuk memberikan pengertian yang jujur tanpa janji palsu.
Kegiatan yang ditutup dengan diskusi santai dan makan bersama ini menunjukkan bahwa kedaulatan tertinggi di Dusun Cilemor tetap berada di tangan warga. Dimas Firman kini memikul beban berat untuk membuktikan bahwa dirinya layak memenuhi ekspektasi besar yang telah diletakkan masyarakat di pundaknya.